KKN UNIDA Gontor Putri; Pengenalan Akad Istisna’ Pada Malika Taylor

Malika taylor adalah salah satu bidang unit usaha yang terdapat dalam Universitas Darussalam Gontor yang terletak di kampus cabang Mantingan. Malika taylor ini, adalah cabang dari unit usaha Unida Putri yang dikembangkan oleh para Mahasiswi aktif yang telah ditunjuk sebagai staff oleh para dosen pembimbing untuk mengemban amanah dalam pengembangkan unit usaha tersebut guna membantu melancarkan ekonomi protektif. Dengan tujuan mengembangkan sirkulasi keuangan untuk membantu pembiayaan fasilitas Universitas Darussalam Gontor dan memenuhi kebutuhan para mahasiswi.

Malika taylor ini, memproduksi berbagai macam kreatifitas produk seperti seragam mahasiswi, tas sandal, kerudung mahasiswi, seragam bagi mahasiswi baru, dan ditambah dengan pembuatan baju harian beserta kerudung harian. Malika taylor ini juga membuka layanan jasa seperti pembuatan baju, permak baju, dan lai sebagainya.

Akan tetapi, kelemahan dari Malika Taylor ini belum mengetahui mengenai akad apa sajakan yang mereka terapkan selama ini. Mereka hanya menerima saja jasa seperti itu. tanpa disadari ternyata ada banyak akad yang terdapat dalam jual beli pada Malika Taylor tersebut. salah satunya adalah akad istisna’.

Istisna’ adalah jual beli barang yang berbentuk pemesanan pembuatan barang dengan kriterian dan persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan. Seperti contoh pembuatan pakaian dengan bentuk tersendiri dan dengan ukuran yang berbeda-beda. Berarti produsen harus membuatkan pesanan yang sesuai dengan pesanan pihak pemesan. Jika pesanan tersebut telah sesuai maka pihak pemesan dapat membayar sesuai dengan bentuk, kerumitan, dan banyaknya kain yang telah dipakai.

Akad istisna’ ini sudah dipakai sejak zaman Rasulullah SAW, dengan salah satu riwayatnya yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW memesan cincin dari perak dengan menggunakan akad istisna’.

Landasan Hukum Istisna’

Ulama’ Hanafiyah memperbolehkan istisna’ dasar mu’amalah manusia dengan yang lainnya dan kebiasaan mereka disetiap kurun yang melakukan pemesanan tanpa ada pengingkaran.

Pendapat ulama tersebut tentunya tidak lepas dari sumber Al-Qur’an dan Sunnah. Seperti yang diriwayatkan Rasulullah SAW dari sahabat anas r.a. “pada suatu hari Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam hendak menuliskan surat kepada seorang raja non arab, lalu dikabarkan kepada beliau: Sesungguhnya raja-raja non arab tidak sudi jika menerima surat yang tidak distempel, maka beliaupun memesan agar ia dibautkan cincin stempel dari bahan perak. Anas menisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan kemilau putih di tangan beliau.” (H.R Muslim)

Ketentuan Akad Istisna’

  1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
  2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
  3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
  4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
  5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
  6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
  7. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki hak khiyar untuk melanjutkan atau membatalkan.

Syarat-syarat Istisna’

Akad istisna’ yang dibolehkan oleh ulama’ Hanafi memiliki beberapa persyaratan, yaitu:

  1. Penyebutan dan penyepakatan kriterian barang pada saat akad dilangsungkan, persyaratan ini guna mencegah terjadinya persengketaan antara kedua belah pihak pada saat jatuh tempo penyerahan barang yang dipesan.
  2. Tidak dibatasi penyerahan barang. Bila ditentukan waktu penyerahan barang, maka akadnya secara otomatis berupah menjadi akad salam. Sehingga berlaku padanya seluruh hukum-hukum akad salam.
  3. Barang yang dipesan adalah barang yang telah biasa dipesan dengan akad istisna’. Telah dijelaskan diatas bahwa akad istisna’ dibolehkan berdasarkan tradisi umat islam yang telah berlangsung sejak dulu kala.

Konsekuensi Akad Istisna’

Imam Abu Hanifah dan kebanyakan pengikutnya menggolongkan akad istisna’ kedalam jenis akad yang tidak mengikat. Dengan demikian, sebelum barang diserahkan keduanya berhak untuk mengundurkan diri akad istisna’. Produsen berhak menjual barang hasil produksinya kepada orang lain, sebagaimana pemesan berhak untuk membatalkan pesanannya.

Sedangkan, Abu Yusuf murid Abu Hanifah, memilih untuk berbeda pendapat dengan gurunya. Beliau menggap akad istisna’ sebagai salah satu akad yang mengikat. Dengan demikian, bila telah jatuh tempo penyerahan barang, dan produsen berhasil membuatkan barang sesuai dengan pesanan, maka tidak ada lagi hak bagi pemesan untuk mengundurkan diri dari pesanannya. Sebagaimana produsen tidak berhak untuk menjual hasil produksinya kepada orang lain.

(Sabtu 17 April’21)

(KKN UNIDA, KELOMPOK  54)

Penulis: Azizah nur hidayati

Editor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *