Peran Mahasiswa Melalui Gerakan UNIDA Membaca (GUM); Kajian Kemahasiswaan

Dewasa ini, Anak bangsa sedang dihadapi tantangan budaya membaca dengan kehadiran internet secara perlahan yang menggeser budaya membaca masyarakat. Demikian ditegaskan oleh Direktur Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Nanang Djamaludin. Beliau salah satu pemrakarsa Forum Taman Bacaan Masyarakat Jakarta ini mengatakan, ketika budaya baca menjadi lemah, perkembangan internet terus menarik ceruk terbesar anak yang tak minat baca buku. “Repotnya banyak buku yang menganggap internet mampu gantikan buku, padahal buku lebih jauh lebih memberi efek ”kedalaman” dan “kelezatan” nan personal ketimbang internet,” tandas Nanang kepada salah satu media Hidayatullah.com.

Bukan hanya demikian, banyak dari situs media membawakan sebuah berita yang mengandung unsur propaganda. Para Mahasiswi harus pandai membaca sebuah bacaan yang dalam hal ini beritanya mengandung unsur propaganda. “Anda harus menempatkan diri anda sebagai seorang hakim, bukan seseorang yang mudah percaya saja. Anda harus setuju atau tidak setuju dan mempunyai kebebasan untuk menerima dan menolak kesimpulan-kesimpulan dalam bacaan itu,” ujar Kurt Kauffarman dalam bukunya The Brain Worker Handbook yang menegaskan bahwa seseorang mesti membaca kritis.

Hal ini juga diperkuat oleh Taufiq Yusuf Al-Wai’iy dalam bukunya “Ad-Da’wah illahllah” bahwa pakar informasi telah memperlaari pengaruh sarana ini (berita) dari sudut pandang yang berbeda-beda dan dari sudut pemikiran yang bermacam-macam lalu hasilnya menyebutkan bahwa rakyat suatu negara bisa memiliki perilaku yang sama atau mereka itu perasa, cepat terpengaruh baik diwarnai oleh iklan dan tentu saja berita di media.

Menghadapi situasi demikian, sudah saatnya Mahasiswi cerdas dalam membaca terutama dalam membaca berita. Pelajar adalah mereka yang menimba ilmu dan mengasah keterampilan dan rasa kepekaan sosial dan semua itu dilakukan untuk mendapatkan wawasan serta sikap yang berakhlakul karimah  demi mewujudkan sebuah kerukunan. Menyikapi kejadian yang terjadi pada masyarakat Indonesia ini harus ditanggapi dengan serius dan seksama.

Pentingnya peran para Mahasiswi khususnya Mahasiswi UNIDA mengadakan pergerakkan 1000 km lebih cepat demi terbangunnya suasana membaca yang efektif dan efiesien di masyarakat terlebih di lingkungan UNIDA saat ini. Karena pentingnya membaca buku dan pentingnya membaca adalah pesan yang sangat ditekankan dalam Islam.

Bahkan Al-Qur’an yang agung pun disebut dengan nama kitab. Perintah membaca ada dalam wahyu pertama, “Iqro bismi rabbika. Buku sangat erat menggambarkan peradaban dalam konteks masyarakanya karena di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam berbicara tentang berbagai aspek ibadah maupun aqidah, namun mencerminkan nilai-nilai akhlakul karimah dan budaya yang sejalan dengan Islam. Buku juga bisa menguatkan jiwa yang ringkih. Itulah buku, benda yang memiliki andil besar dalam melahirkan peradaban-peradan besar di muka bumi.

Tidak heran bila Bapak Pengasuh UNIDA Gontor Putri Al- Ustadz Nur Hadi Ihsan, begitu peduli terhadap budaya membaca. Berbagai langkah dan upaya dilakukan agar minat membaca mahasiswi UNIDA Putri meningkat. Begitupun stimulus diberikan untuk mendorong agar mahasiswinya memiliki kebiasaan atau budaya membaca. Menurut Mendikbud, dalam pandangan Islam, ada ungkapan yang sangat populer. bahwa sebaik-baik teman adalah buku. Karena buku dapat mempengaruhi emosi – membawa kegembiraan dan kebanggaan atau sebaliknya. Buku juga teman yang luar biasa tulus, menyampaikan apa adanya.

Mahasiswi merupakan generasi muda yang memilik peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Mahasiswi adalah insan akademis yang juga sebagi makhluk sosial. Dengan segala intelektual yang dimiliki mahasiswi, diharapkan dapat memberikan perubahan yang berarti terhadap kemajuan Pendidikan.

 

Implikasi GUM di Kalangan Perguruan Tinggi ?

Mahasiswi dapat diartikan sebagai calon guru yang professional harus memiliki kepribadian unggul, beberapa upaya yang dapat dilakukan mahasiswi untuk meningkatkan minat membaca di UNIDA, antara lain:

1) Sadar bahwa membaca itu penting

2) Intropeksi diri

3) Menjadi pelopor dalam membentuk kelompok membaca

4) Sebagai pembangkit dan pendorong terhadap kelompok yang sudah menfungsikan kegiatan membaca.

Disinilah seharusnya mahasiswi bisa mengambil peran penting tersebut. “Beri aku 10 pemuda (mahasiswi) akan kugoncangkan Dunia,” itulah sepenggal pidato Soekarno, founding father bangsa ini, yang mengisyaratkan begitu penting peran mahasiswi dalam mengubah kehidupan bangsa ini. Lebih daripada itu seorang mahasiswi harus pandai membaca berita melalui media.

Mahasiswi harus professional dalam menggunakan logika dan akal sebagai fitrahnya dengan sebaik mungkin karena anda lebih cerdas jika ada berita yang tidak masuk akal dan perlu dipertanyakan. Mahasiswi harus mampu memilih media yang memberikan informasi, mengabarkan dan menulis secara adil berdasarkan kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah.  Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin bangsa nantinya sudah saatnya menjalankan nilai-nilai peran dan fungsi mahasiswa sehingga diharapkan nantinya nilai tersebut bisa menjadi pengontrol kita kelak ketika pada saatnya menggantikan posisi para pemimpin bangsa.

 

Writed by Sintya Kartika Prameswari/ Mahasiswi UNIDA Gontor

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *