Seminar Jurnalistik: Jurnalistik Ala Pesantren Jurnalistik Yang Lebih Hijau

DEMA- Dewan Mahasiwa UNIDA Gontor mengadakan Seminar Jurnalistik yang bertemakan Jurnalisme Ala Pesantren pada Senin (29/8) di Hall Sirah UNIDA Gontor.

Seminar ini diisi oleh Drs. Eko Pamuji, M.I.Kom. Selaku Sekretaris Jendral JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia) yang memberikan materi tentang Media Dalam Revolusi Digital. Kemudian dilanjutkan dengan pemateri yang kedua yaitu Dr. H. Deden Mauli Darajat yang menyampaikan materi tentang Jurnalistik ala Pesantren.

Tidak lupa, Acara ini juga turut mengundang LPM sekitar Ponorogo, seperti LPM Al-Millah dari IAIN Ponorogo, LPM Synergi dari UNMUH Ponorogo, LPM Metamorposis dari INSURI Ponorogo dan juga LPM dari Akaparma Ponorogo.

Seminar Jurnalistik juga dilaksanakan secara <i>daring<i>. Panitia menyediakan <i>Zoom Meeting<i> bagi peserta yang tidak bisa mengikuti kegiatan secara <i>luring<i>, sehingga semua kalangan mahasiswa dapat mengikuti seminar Ini.

Seminar jurnalistik yang diadakan oleh Dewan Mahasiwa serta Lembaga Pers Mahasiwa (LPM) Karisma kali ini bertujuan untuk meningkatkan skill jurnalistik mahasiswa UNIDA secara umum dan secara khusus bagi anggota LPM Karisma dan LPM sekitar Ponorogo. Seminar Jurnalistik yang bertemakan Jurnalisme Ala Pesantren ini akan memberikan Jurnalistik yang lebih hijau dalam pandangan Islam. Tidak hanya itu, Jurnalistik ala Pesantren juga sebagai arah dari Jurnalistik yang ada di UNIDA Gontor. Sehingga tulisan jurnalistik yang dihasilkan, tidak keluar dari batasan kampus Pesantren.

Beberapa kutipan dari pemateri tentang Jurnalistik Islam, seorang Jurnalis Muslim harus:
  1. Sebagai pendidik (muaddib), yaitu melaksanakan fungsi edukasi yang Islami.
  2. Sebagai pelurus informasi (musaddid).
  3. Sebagai pembaharu (mujaddid).
  4. Sebagai pemersatu (muwahid).
  5. Sebagai pejuang (mujahid), yaitu pejuang-pejuang pembela Islam.
Pada prinsipnya, Jurnalistik Islam berkarakteristik sebagai seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu:
  1. Shiddiq. Al-shidq mengacu kepada pengertian jujur dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan.
  2. Amanah artinya terpercaya, dapat dipercaya, karenanya tidak boleh berdusta, merekayasa, memanipulasi atau mendistorsi fakta.
  3. Tabligh artinya menyampaikan, yakni menginformasikan kebenaran, bukan malah memutarbalikkan kebenaran.
  4. Fathonah artinya cerdas dan berwawasan luas.

Dengan adanya seminar ini, akan memunculkan bibit jurnalis muslim baru di kalangan pesantren khususnya di UNIDA Gontor.

[Jahhid]

One Reply on “Seminar Jurnalistik: Jurnalistik Ala Pesantren Jurnalistik Yang Lebih Hijau”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *