Muhasabah; Pengingat Untuk Segera Memperbaiki Diri

Muhasabah artinya perenungan diri untuk menghitung apa yang telah kita lakukan sebelum Allah SWT menghisab amal kita pada hari pembalasan. Merenung, mengintrospeksi, kemudian melakukan perbaikan dan meningkatkan persatasi serta perilaku semaksimal mungkin tuntunan Allah SWT menjadi dasar seseorang melakukan muhasabah.

“Bahagialah orang yang sibuk memperhatikan aib diri sendiri ketimbang memperhatikan aib – aib orang lain.” (HR Al-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Dengan bermuhasabah, seorang hamba yang beriman melaksanakan perintah-Nya. Orang itu akan selalu memperhitungkan diri sendiri sebelum menilai orang lain. Apakah dirinya sudah pantas sebagai hamba Allah SWT yang baik ? apakah amalan – amalannya bernilai di sisi Allah ta’ala? Hidup di dunia ini adalah kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan untuk mengumpulkan bekal bagi perjalanan di akhirat kelak.

Muhasabah merupakan tolak ukur keimanan. Artinya, keimanan seorang hamba Allah ditentukan oleh sejauh mana dia dapat menerapkan muhasabah dalam kehidupannya. Muhasabah rasanya tidak mungkin derajar takwa dapat dicapai oleh orang yang menghindari bermuhasabah, dengan menghisab diri sendiri, seseorang dapat sadar diri.

Pada akhirnya, dia kian termotivasi untuk meningkatkan kualitas amalan-amalan demi mendapatkan ridha-Nya. Kunci suksa manusia, baik di dunia maupun akhirat. Ada dorongan dari diri sendiri untuk melakukan yang lebih baik daripada hari kemarin, demikian pula hari esok diproyeksikan lebih baik daripada hari ini.

Generasi umat islam yang gemar bermuhasabah tidak akan berpangku tangan atau bersantai-santai dalam menjalani kehidupan. Karena, mereka meyakini adanya hari perhitungan ketika Allah SWT mrnunjukkan dan membalas setiap amal baik dan buruk, sekecil apapun itu. tujuan akhir daripada muhasabah ialah mencapai keridhaan Ilahi yang ditandai dengan izin-Nya agar diri dapat apa yang telah dituju, sesuai dalam pedoman hidup manusia di muka bumi ini sebagai khalifah.

Muhasabah menjadi salah satu sifat muslim yang bertaqwa. Hasil dari kita bermuhasabah diri adalah Taubat. Allah SWT Maha Penerima Taubat hambanya. Segala kesalahan dan dosa hambanya Allah sangat Maha Pengampun. Seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadist riwayat Muslim berikut ini:

Diriwayatkan dalam hadist Imam Muslim nomor 2703 dari Abu Hurairah RA. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah akan menerima taubatnya”

Penulis: Sintya Kartika/ Mahasiswi UNIDA Gontor

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *