Ustadz Setiawan Bin Lahuri: Cara membelanjakan harta yang baik bagi seorang Muslim

membelanjakan harta

Bertepatan setelah Shalat Magrib berjamaah, dalam beberapa kesempatan Al-Ustadz, Setiawan Bin lahuri, akan mengingatkan bagaimana pola konsumsi yang baik bagi seorang Muslim. Terutama dalam membelanjakan harta, beliau menyampaikan seorang hamba Allah harus tahu betul mana yang menjadi prioritas. Sebagaimana dalam Quran Surah Al-Furqan Ayat 63 sampai dengan ayat 67, Allah berfirman

Dan Hamba-Hamba Allah Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas Bumi dengan rendah hati, dan apabila beberapa orang jahil (bodoh) menyapa mereka, kaka mereka mengucapkan kata-kata yang baik, Dan orang yang melalui malam hari dengan bersudud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan mereka yang berdoa “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam, sesungguhnya azabnya adalah sebuah kehinaan yang kekal”. Dan tempat itu merupakan seburuk-buruknya tempat menetap dan tempat kediaman. Dan mereka yang apabila membelanjakan harta tidak belebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adapaun pembelanjaan itu berasa ditengah-tengah nya. (QS:Al-Furqan: (63-67))

 

Pada ayat terakhir dijelaskan bagaimana salah satu karakteristik dari seorang Hamba Allah adalah tidak membelanjakan hartanya secara berlebih-lebihan Al-Israf  dan tidak pula kikir At-taftir , akan tetapi merekalah yang dapat mencari keseimbangan maupun jalan tengah dari kedua hal ini.  Al-israf dapat diartikan sebagai bentuk pelampauan batas dalam membelanjakan harta. Sebagai contohnya adalah ketika seorang ingin membeli makan siang dan cukup hanya mengeluarkan sebesar 15000. Namun individu tersebut jutru mengeluarkan uang diatas 15000 atau kisaran 20.000. Maka dia sudah melampaui batas dari pembelanjaan ataupun belebih-lebihan dalam menngunakan  harta yang sudah cukup untuk 15.000 tersebut.

Sebaliknya juga dengan At-taftir, yakni dimana seseotrang melampaui hak dari harta yang seharusnya dia berikan. Untuk contohnya sendiri adalah ketika seorang individu diharuskan untuk membeli kebutuhannya yang mencapai rp 15.000.  Akan tetapi dia hanya mengeluarkan uang sebesar 5000 untuk membeli kebutuhan tersebut. permisalan lainnya adalah ketika seorang individu memiliki uang yang cukup untuk membelikan temantemannya makan siang. Namun dia hanya membeli makanan untuk dirinya sendiri. Maka hal yang diperbuat oleh individu ini termasuk dari At-taftir,dimana uang yang dia kelaurkan jauh dari hak nominal yang harus dikelaurkannya.

Maka dari seorang Muslim dan Mu’min yang baik harus dan perlu mencari jalan tengah dan menyeimbangkan antara kedua hal yang kurang baik ini. Dimana dia perlu melihat mana yang penting dan tidak penting untuk menjadi skala priotitas dalam menggunakan uangnya. Sehingga bahkan hartanya dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih manfaat dari hanya sekedar memenuhi  keinginan.

 

by: Byan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *