GEMA TAKBIR IDUL ADHA DI TENGAH PANDEMIK COVID-19

Jum’at, 10 Dzulhijah 1441/ 31 Juli 2020, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Gema gendang suara takbir di kumandangkan menandakan datangnya hari idul adha. Seluruh Civitas akdemika Unida GONTOR pun melaksanakan sholat Idul Adha. Bertempat di masjid Jam’I Unida GONTOR dengan menjalankan protokol kesehatan WHO. Dr. Setiawan bin Lahuri, Lc, M.A wakil rektor UNIDA Gontor menyampaikan Khutbah dengan hikmat .

Kisah para Sahabat menghadapi Wabah

Ditengah Gema Takbir Idul Adha ini. Beliau mengingatkan kembali mengenai isu yang masih hangat beberapa bulan ini.  Wabah pandemik yang di hadapi umat sejak beberapa terakhir ini, memunculkan ragam pertanyaan. Apa sebenarnya covid-19 ini ? Apa penyebab munculnya nya? dan kapan akan berakhir. Pada tahun 18 H di era Khalifah Umar bin Khatthab terjadi wabah yang bernama emmais. Emmais adalah kota antara Al-Quds dengan Ramla (wilayah Israel sekarang). Kemudian  wabah menyebar ke seluruh penjuru syam (Syria dan Lebanon sekarang). Wabah ini menelan korban lebih dari 20.000 jiwa lebih dari setengah penduduk syam.

Perjuangan Abu Ubaidah Bin Jarah  menghadapi wabah 

Terdapat satu kisah menarik dari fenomena wabah tersebut Dimana Umar bin Khattab meminta Abu Ubaidah bin Al-jarrah pemimpin kota Syam untuk keluar dari syam. Namun Abu Ubaidah menolak dengan kondisinya yang terus memburuk. Dan demi menjaga kesehatan warga dan pasukannya. Maka keputusannya beliau mengedepankan mashlahah umum.

Sampai akhirnya Abu Ubaidah pun mati syahid akibat wabah Emmais yang dideritanya. Sebelum menjemput ajalnya, Abu Ubaidah menyamaikan beberapa kalimat indah kepada rakyat Syam dalam menyikapi wabah. Dalam nasehat tersebut, Abu Ubaidah mengatakan bahwasannya Wabah ini merupakan Rahmat dari Allah. Dan juga Dakwah Nabi kalian dan juga orang-orang Shaleh yang wafat sebelum kalian.

Sikap Khalifah Umar dalam mengatasi Wabah Emais

Khalifah Umar pun menjaga keselamatan jiwa masyarakat muslim dari bahaya.  Yaitu dengan memperbolehkan masyarakat yang sehat dan tidak terkena wabah untuk keluar dari Syam. Hal tersebut diilakukan agar mereka terhindar dari penyakit. Sedangkan mereka yang telah terkena penyakit dari wabah dianjurkan untuk menetap di syam. Terdapat salah satu sahabat Amru bin Ash rupanya ia tidak mengikuti jejak abu ubaidah. Beliau lebih mengedepankan mashlahah Umat dengan pergi ke pegunungan yang tinggi di wilayah syam. Dengan tujuan untuk melakukan isolasi mandiri dan akhirnya selamat dari wabah ini.

Hikmah yang dapat diambil

Dari cerita para sahabat ini memberikan banyak pelajaran kepada kita semua bahwa :
1. Allah SWT menurunkan musibah dan wabah sesuai dengan kehendaknya. Tugas kita adalah tetap dan memegang teguh iman dan bersabar.
2. Ketika ada orang muslim atau pun orang non muslim yang terkena virus ini dan meninggal. Selayaknya kita perlu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya.
3. Meningkatkan kesehatan diri dengan melaksanakan protokol kesehatan.
4. Kita tidak boleh takut dan berharap kecuali hanya kepada Allah SWT.
Kemudian setelah Shalat idhul adha dan khutbah selesai dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban.  Hewan yang akan dikurbankan berjumlah 10 ekor sapi dan 26 ekor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *