Pola Konsumsi Umat Muslim Selama Ramadhan

Sudah menjadi sebuah rutinitas bagi Universitas Darussalam Gontor untuk selalu mengadakan Kajian Subuh selama bulan Ramadhan. Meskipun dalam kondisi wabah tradisi ini tetap berjalan diiringi dengan antusiasme Mahasiswa yang menetap di Kampus. Pada Ahad Pagi (03/28) Al-Ustadz,Dr. Setiawan Bin Lahuri,M.A Wakil Rektor 2 UNIDA Gontor menjadi pembicara dalam Kajian tersebut. Beliau menyampaikan bagaimana lazimnya pola konsumsi Umat Muslim terutama selama Bulan Ramadhan ini.

Sebagai bulan mulia Ramadhan merupakan momen yang selalu ditunggu Umat Islam setiap tahunnya. Banyak cara yang dilakukan khalayak untuk menyambut bulan suci ini. Mulai dari mempersiapkan diri agar kuat menjalankan ibadah sampai membeli berbagam santapan khas. Namun banyak kekeliruan yang dilakukan dalam menyambut bulan Ramadhan. Satunya adalah dengan pemborosan atau membeli banyak konsumsi secara berlebihan tanpa melihat adanya manfaat didalamnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam Quran Surah Al-furqan : 67
وَالَّذِينَ إِذَآ أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Terdapat dua istilah didalam ayat ini yaitu الاسرافAl-Israf dan التفتيرAt-Taftir . Secara bahasa Al-Israf berarti berlebihan sedangkan secara Istilah adalah “mengeluarkan harta dalam maksiat kepada Allah walaupun sedikit. Dengan kata lain pola konsumsi yang dilakukan tanpa mengandung manfaat.

Tentunya dapat kita lihat dalam contohnya dalam kehidupan sehari-hari terutama selama bulan Ramadhan.  Terdapat dua permisalan yang dapat kita mengenai pola konsumsi secara berlebihan ini. Pertama adalah seseorang Muslim yang menafkakan harta sampai ratusan juta untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umroh. Selanjutnya yang kedua ada seseorang Muslim yang membeli peralatan game seharga seratus ribuan.

Hal yang membedakan Pola Konsumsi kedua Muslim tersebut adalah manfaat dari praktik pelaksanaannya. Yang pertama meskipun banyak biaya yang digunakan namun tujuannya adalah untuk ibadah maka bukan termasuk kedalam Israf. Sedangkan yang kedua biaya yang digunakan memang terlampau sedikit namun termasuk dalam kategori Israf. Pola konsumsi yang dilakukan Muslim kedua masuk ke dalam kemaksiatan karena tidak ada maslahat dan nilai ibadah didalamnya.

Selanjutnya istilah kedua yaitu “At-Taftir” secara bahasa dapat diartikan sebagai “bukhl” atau kikir. Sedangkan dari segi istilah ‘At-Taftir adalah menahan diri dari berbuat baik dalam ketaatan kepada Allah. Salah satu contohnya adalah ketika seseorang yang memiliki harta yang cukup banyak tidak mau memberikan sedekah untuk iuran berbuka puasa. Karena dia merasa tidak mendapatkan keuntungan dalam melakukan hal tersebut. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dimana pahala dilipatgandakan namun sifat kikir menghalangi orang dari taat kepada Allah Subhanahu Wa Taa’laa. Sehingga justru orang tersebut tidak dapat memanfaatkan momentum Ramadhan secara maksimal.

by: Byan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *