Mengingat Kembali (PERSEMAR) Peristiwa 19 Maret 1967

Kampus Putri_ Universitas Darussalam Gontor kampus putri pagi tadi telah melaksanakan peringatan PERSEMAR (peristiwa 19 Maret 1967). Acara yang dilaksanakan di gedung Kulliyatu-l Banat Gontor Putri 1, di hadiri oleh Rektor UNIDA Gontor Al-Ustadz Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A, Wakil Rektor I Al-Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi, Wakil Rektor II Al-Ustadz Setiawan Bin Lahuri, M.A, Wakil Rektor III Al-Ustadz Dr. Abdul Hafidz Zaid, M.A, Dekan Kulliyatu-l Banat UNIDA Gontor putri Al-Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH, kepala Pengasuh Gontor Putri Kampus 1 Al-Ustadz Dr. Suharto, M.Pd. … serta seluruh jajaran dosen UNIDA Gontor (25/03)

Kegiatan tahunan ini di ikuti oleh seluruh civitas akademika UNIDA Gontor putri yang meliputi 1.200 lebih Mahasiswi. Tepat pukul 08.00 WIB acara dimulai kemudian dilanjutkan dengan sambutan bapak Rektor UNIDA Gontor Al-Ustadz Prof. Dr. K.H Amal Fathullah Zarkasyi, M.A menyampaikan beberapa pesan peristiwa kelam tahun 67.

‘’Peristiwa PERSEMAR adalah peristiwa kejam, berbahaya, memalukan dan menakutkan yang tidak akan pernah terulang kembali.’’ Ungkap Prof. Amal.

Peristiwa 19 Maret 1967 atau PERSEMAR merupakan sebuah peristiwa yang penting dan bersejarah bagi PMDG pada waktu itu. Peristiwa penting untuk menghindari kesalahan dan memantapkan jiwa mahasiswi dan seluruh keluarga Pondok Modern Darussalam Gontor agar tidak terulang kembali peristiwa kejam (Bejat), menakutkan dan berbahaya tersebut.

PERSEMAR terjadi karena permasalahan dalam tindakan perebutan kekuasaan. Karena pada waktu itu santri dan guru-guru kurang memahami pondok, maka jiwa mereka merasa paling benar, berjaya, pemberontak, tidak mau kalah, merasa kuat, dan merasa tidak adil. Semua itu keluar dari sifat-sifat Diabolisme (Setan). Ketika itu kiyai mau di bunuh dan pondok di liburkan sebab peristiwa tersebut. Demo di mana-mana, semena-mena tidak mau tau, mencoret-coret inventaris serta membunyikan lonceng semaunya itulah jiwa santri ketika itu. Dunornya adalah guru-guru senior yang mengajar dan kancilnya adalah santri experiment yang merasa paling besar dan berkuasa.

Kejadian kelam itulah yang menjadi peristiwa sejarah bagi Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada setiap kampus pusat, cabang hingga Universitas agar wajib untuk memperingatinya. Walaupun kejadian itu bersamaan dengan kejadian kejam pasukan komunis PKI.

Prof. Dr. Amal menambahkan pesannya pada peristiwa ini kembali terjadi di Universitas Institut studi islam pada waktu itu. “Peristiwa Rabu kelabu terjadi di Institut Studi Islam Darussalam yang bertempat di Siman, Ponorogo. Sama dengan peristiwa yang terjadi pada PERSEMAR, Maka ini wajib untuk memperingati pada kejadian-kejadian semua itu.” pesannya.

Peristiwa Rabu di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) merupakan peristiwa yang tidak layak dan tidak akan pernah terulang kembali. Pada saat itu Mahasiswa dan Mahasiswi masih berada dalam satu naungan Kampus di Siman, Ponorogo. Mahasiswa/I berani bertemuan secara diam-diam, mengadakan sebuah acara bersamaan antara laki-laki dan perempuan sehingga menculnya berkhalwat. Mahasiswa/I yang tidak mau di atur karena memilih hak yang berwenang semena-mena.

Setelah sambutan Prof. Dr. Amal di lanjutkan dengan pembacaan susunan Bab aturan peristiwa (PERSEMAR) tersebut. Bab I oleh Ustadz Setiawan Bin Lahuri, Bab II oleh Ustadz Abdul Hafidz kemudian dilanjutkan dengan pembacaan pembagian Wakaf PMDG dan Peristiwa ISID oleh Ustadz Nur Hadi.

“Seorang muslim harus waspada, tidak boleh jatuh di lubang kedua kalinya dan jika ini musibah pondok. Semoga ada hikmah untuk kemajuan Pondok dan Universitas” Ungkap Al-Ustadz Abdul Hafidz, selaku wakil Rektor III UNIDA Gontor.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *