Mengenang Peristiwa 19 Maret (PERSEMAR) 1967 Bersama Bapak Rektor Unida Gontor

UNIDA GONTOR – Sabtu, 21 Maret 2020, seluruh Civitas akademika UNIDA Gontor kampus siman memperingati Peristiwa Sembilan Belas Maret (PERSEMAR) 1967 di Hall Lt.4 untuk jajaran dosen dan Lt.1 untuk Mahasiswa.

Kejadian bersejarah yang amat memilukan dan memprihatinkan tersebut dialami Gontor menjelang perayaan Idul Adha, yaitu bertepatan dengan tanggal 7 Dzulhijjah 1386. Peristiwa yang pada akhirnya menjadi titik tolak kemajuan PMDG ini berawal dari upaya pihak-pihak tertentu di kalangan guru-guru dan santri-santri senior untuk mengubah status, posisi, dan orientasi pondok dari rel-rel yang telah ditetapkan Trimurti semenjak berdirinya.

Ust. Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A Selaku Rektor universitas Darussalam Gontor kampus siman menceritakan tentang tragedi yang di alami gontor pada 19 maret 1967. Beliau mengatakan tragedi ini di mulai sejak K.H. Imam Zarkasyi selaku ayah dari beliau jatuh sakit asma dan ibunda beliau meninggal dunia, lalu di lanjuti dengan tanah di mantingan yang seluas 2 H di kuasai oleh PKI. Pada tahun 1965 terdapat tragedi pembakaran rumah-rumah PKI setelah itulah di mulai pemberontakkan dari santri.

Para santri itu berdemo, menuntut perbaikan lauk-pauk. Kasur-kasur dibakar, lonceng dibunyikan, mereka menolak masuk kelas, menolak diajar, mereka bernyanyi-nyanyi seperti orang gila. Sebagian Guru ada yang memang jadi provokator bersama dengan anak-anak yang dari kelas experiment (intensif) yang duduk di kelas lima.

Tuntutan yang mereka orasikan, padahal tujuannya satu: Ingin menarik Gontor menjadi salah satu Pesantren yang bekerjasama dengan Partai yang mereka usung. Gontor yang berdiri diatas dan untuk semua golongan hendak mereka ganti menjadi satu golongan saja, dan satu-satunya yang bisa menjamin ini berjalan adalah dengan mengganti Kyai-nya. Pada masa-masa itu, persaingan politik di Indonesia memang sudah menggila, sehingga dunia pendidikan juga hendak dimasukinya.

Rumah Pak Lurah (KH Rahmat Soekarto) yang menjadi tempat perlindungan Pendiri karena ingin di bunuh oleh para santrinya mereka obrak-abrik, kambing beliau mereka ambil. Teriakan Pak Zarkasyi dan Pak Sahal tidak mereka hiraukan. Mereka berteriak-teriak “Kyai Bohong… Kyai ngapusi… Kyai dusta….” Berhari-hari lamanya Gontor dicekam kondisi tidak menentu. Sehingga akhirnya Para Kyai memutuskan bahwa Gontor akan libur panjang dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Para santri dipersilahkan pulang, dan bagi yang tidak terlibat akan dipanggil kembali.

Gontor lengang. Sepi tak berpenghuni. Para santri yang ikut-ikutan sekarang sadar, bahwa mereka itu tamu. Pak Kyai-lah yang punya pondok, Pak Kyai-lah yang memimpin Pondok, Pak Kyai-lah yang punya ilmu. Mereka di sini cuma menumpang sementara, mohon untuk dididik dan dibina, diberikan ilmu yang bermanfaat.

Menyadari betapa pentingnya memperingati PERSEMAR 1967, agar kejadian yang menyayat hati ini tidak terulang untuk kedua kalinya, maka memperingati PERSEMAR ini selalu di adakan di Gontor dan kampus UNIDA setiap tahunnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *