Seminar Pemikiran dan Peradaban Islam PKU di UNIDA Gontor Putri, Bahas Syi’ah Arkoun dan Islamisasi

Kampus Putri_ (3/12/2019) Universitas Darussalam Gontor telah mengadakan Seminar PKU (Program Kaderisasi Ulama) tahun ke 13. Acara yang diselenggarakan oleh Dema putri ini memberikan ilmu baru kepada mahasiswi UNIDA Gontor dalam memaknai Pemikiran dan Peradaban Islam. Kegiatan tahunan ini menjadi rutinitas dalam setiap semester genap yaitu Seminar PKU.

Seminar pemikiran dan peradaban islam tersebut menjelaskan terkait tantangan pemikiran kontemporer yang terjadi pada saat ini, baik pada skala nasional maupun internasional. Menjamurnya paham-paham yang merusak aqidah umat islam di Indonesia khususnya, menjadi salah satu lading dakwah bagi peserta PKU UNIDA Gontor untuk mendekonstruksi pemikiran tokoh Barat maupun muslim yang beragumentasi tanpa berlandaskan nash-nash al-Qur’an.

Acara dimulai pukul 13.30 WIB, dibuka oleh Dekan Kulliyatul Banat, Al-Ustadz Nurhadi  Ihasn, MIRKH di aula Gedung Lab Farmasi lantai 3. Beliau mengatakan bahwa acara seminar PKU ini merupakan salah satu acara penting dengan adanya seminar ini akan terbuka wawasan kita mengenai tantangan pemikiran kontemporer di era sekarang ini.

Turut hadir dalam acara ini ialah pembimbing PKU Gontor, dosen, dan seluruh civitas akademika UNIDA Gontor putri. Walaupun dengan kondisi cuaca yang panas, tidak menjadi halangan dan tetap antusias untuk mendengarkan beberapa pemateri dalam seminar PKU tersebut.

Pada seminar ini ada 3 utusan PKU UNIDA Gontor yang menjadi pembicara. Pertama, Ahmad Tauhid Mafaza dengan tema “Konsep Ghaibah Syi’ah Imamiyah Isna’Ashariyah”. Kedua, Fariz Mirza Abdillah dengan tema “ Metodologi Penafsiran Al-Qur’an Muhammad Arkoun dan Implikasinya terhadap ayat-ayat Mawarist.” Ketiga, Martin Putra Perdana dengan tema “Islamisasi sebagai paradigm keilmuan”.

Pada hakikatnya seminar pemikiran dan peradaban islam ini menjadi sebuah  pembelajaran bagi peserta PKU UNIDA Gontor untuk mengasah wawasan keilmuannya dalam menangani isu-isu pemikiran kontemporer. Sehingga kedepannya, dapat menjadi ulama yang tidak hanya bisa beribadah secara ritual, melainkan beribadah secara intelektual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *