Mengupas Sejarah Keunikan Masjid Jogokariyan, Yogyakarta

Yogyakarta_Masa liburan adalah masa yang di tunggu-tunggu oleh semua Mahasiswa/I dari Universitas Darussalam Gontor. Moment ini dimanfaatkan oleh salah seorang mahasiswi PAI untuk mengunjungi tempat bersejarah, salah satunya adalah Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Masjid Jogokariyan awal mula dibangun pada tahun 1966, salah satu masjid bersejarah yang berada di Kampung Jogokariyan. Berlokasikan dekat pondok pesantren krapyak yang sama-sama memiliki sejarah panjang. Masjid Jogokariyan didirikan oleh pengurus Muhammadiyah Ranting Karangkajen sebagai media dakwah untuk memperkuat dan menginternalisasi nilai-nilai keislaman ke dalam diri penduduk sekitar masjid.

Dari asal – usul nama “Jogokariyan” dipilih oleh para perintis dakwah karena beberapa alasan. Diantaranya, berpegang pada Sunnah Rasullah SAW, para pendiri masjid berharap masyarakat lenih mudah menemukan lokasi atau keberadaan masjid itu, pemberian nama diyakini akan mampu merekatkan dan mempersatukan masyarakat Jokokariyan yang sebelumnya terpecah belah karena perbedaan aliran dan gerakan politik.

“Kegiatan kami terbagi dari beberapa acara besar diantaranya, acara harian, bulanan, tahunan. Masjid ini juga tempat pusat kajian besar didaerah Jogokariyan. Banyak kegiatan bagi pemuda pemudi masjid ini dalam mengembangkan aktifitas kesehariannya.” Ungkap Bapak Rahmat Hidayat, salah satu ta’mir Masjid Jogokariyan. Rabu, (6/11)

Masjid Jogokariyan memiliki visi, yaitu Terwujudnya masyarakat sejahtera lahir batin yang diridhoi Allah SWT melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid.

Keberadaan Masjid Jogokariyan selain untuk menyiarkan nilai-nilai keislaman juga berupaya untuk menyatu dengan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Hal itu tergambar dalam logo masjid yang memiliki tiga unsur bahasa yaitu Arab, Indonesia dan Jawa. Selain itu, masjid tersebut memiliki kelengkapan yang baik dengan kapasitas memadai untuk kenyamanan para pengunjung.

Masjid Jogokariyan dilengkapi dengan fasilitas di antaranya, Bangunan utama 3 lantai, ruang utama 1 buah, serambi 3 buah, ruangan serbaguna 1 buah, ruang penginapan 3 buah, ruang poliklinik 1 buah, ruang perpustakaan 1 buah, garasi 1 buah, tempat wudhu 5 lokasi, kamar mandi 30 buah, ruang dapur 1 buah, menara 1 buah, sound system 1 set, hall 1 buah, Islamic senter 1 buah, hotel kualitas bintang 4 sebanyak 11 kamar, secretariat 1 buah, CCTV 1 set, mobil operasional masjid 1 buah.

“Program Masjid Jogokariyan merancang dengan konsep manajemen masjid. Program tersebut dijalankan oleh ta’mir sebagai langkah strategis dan praktis sebagai peradaban umat.” Ujar Arya Mukti, PMR masjid.

Perjalanan liburan dengan berkunjung tempat bersejarah dapat menambah ilmu serta wawasan kita dalam meluangkan waktu yang produktif. Jadikan liburan sebagai tempat sarana dakwah dan penambahan ilmu pengetahuan yang belum kita lewati

(Sintya/Pers UNIDA) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *