Menjelang Persiapan UAS: Markaz Islamisasi mengadakan Penutupan FNL(Friday Night Lecture)

Kampus Putri_ 18 Oktober 2019, Markaz Islamisasi, Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri telah mengadakan penutupan FNL ( Friday Night Lecture). Tepat pukul 08.00 WIB acara dimulai. Acara dilaksanakan di Gedung Lab. Farmasi lantai 3. Melibatkan seluruh Mahasiswi UNIDA Gontor Kampus Putri.

Sambutan Oleh Dekan Kulliyatu-l Banat Al-Ustdaz Nur Hadi Ihsan, MIRKH. Menyampaikan bahwasanya FNL merupakan kajian diskusi mahasiswi yang harus di kembangkan dengan banyak ilmu islmamisasi, dengan kajian diskusi pada hari senin malam yaitu MND ( Monday Night Day).

Sebagai moderator Ustadz Hifni Nasif mengantarkan puncak acara penutupan FNL ini dengan lancar. Pentupan FNL dengan tema “ISLAM NUSANTARA, Problem Terminologis, Theologis dan Ideologis”.

Pemateri yang disampaikan oleh Ustadz Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.ed M.Phil mengenai Islam Nusantara yang terlahir sudah sekian lama. Penamaan islam di depan sebuah tempat itu bermasalah. Seperti, Islam Sumatra, Jawa, Arab dan lain sebagainya. Ideologis mengenai islam nusantara beranggapan dengan berbeda-beda. Hubbul waton minal iman. Islam harus menyatu dengan nasionalisme bukan hanya dengan kemajemukan islam saja.

KH Gus Rizal MUI SUMBAR berkata bahwasanya “Islam Nusantara dinilai mengandung potensi penyempitan makna islam yang universal. Istilah Islam Nusantara juga sering digunakan untuk merujuk cara beragama islam yang toleran. Toleransi lainnya merupakan satu aspek, Padahal banyak aspek lain dalam islam. Islam tidak menjadi dikecilkan hanya menjadi satu aspek saja, melainkan harus menyeluruh.

Implikasi Ideologi Jika terciptanya istilah Islam Nusantara adalah plural nama islam yang mempunyai indikasi adanya upaya untuk menjadikan islam itu plural. Tidak tunggal dan berarti tidak absolut alias relative. Jadi istilah ini adalah upaya untuk merelatifkan islam. “Pluralisme agama adalah faham yang menganggap tuhan itu satu dan menganggap semua agama itu sama. Jika ada seseorang yang berkata demikian maka, dia di anggap telah menyebarkan dan terkena firus pluralism.” Ujar Ustadz Hamid dalam penjelasan seminar tersebut.

(SINTYA KARTIKA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *