Pentas Produksi Karya Theaterikal Drama Pantomim Dengan Judul “The Power Of Love 212”

Ponorogo – Dalam rangka memperingati hari jadi UKM Seni Tim Ilustrasi Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo. Tim Ilustrasi UNIDA Gontor ingin membuat sebuah karya produksi sendiri yang lansung disutratadai oleh salah satu pengurus yaitu Shifu Alwy Mudzakky. Pentas produksi ini merupakan hal yang baru bagi Tim Ilustrasi UNIDA, hal ini dikarenakan faktor pembuatan sebuah karya teaterikal tidak lah mudah. Apalagi ini di ampu oleh satu orang sutradara saja. Dalam pembuatan naskahnya saja perlu memakan waktu berbulan-bulan lamanya.

Proses penyulingan ide dan keadaan yang akan di tampilkan memerlukan gambaran yang benar-benar harus tepat supaya penonton tidak salah pengertian akan pesan yang akan disampaikan. Walaupun sutradai oleh satu orang hasil karya produksi ini tak sepenuhnya dari sang sutradara karena walau gambaran dan ide umumnya dikemukakan oleh sutradara respon dan saran dari anggota lain pun di perhitungkan secara terstruktur. Hal ini dimaksudkan supaya karya ini dapat di nikmati dalam berbagai sudut pandang. Betepatan akan produksi tersebut PSTP (Paguyuban Seni Teater Ponorogo) mengundang T I UNIDA Gontor untuk mengaambil kesempatan dalam menampilkan produksinya di hadapan bupati Ponorogo serta masyarakat luas.

Ketika pentas pun sebenarnya banyak adegan yang belum tersampaikan pesannya secara baik terhadap para audiens,hal in karena pemeran dalam pentas ini juga masih punya kekurangan dalam mendalami karakter dan waktu latihan yang bisa dibilang cukup singkat yaitu 1 minggu saja. Namun respon dari pihak PSTP dan juga para audien terbilang cukup terhibur dengan adegan-adegan yang di berikan. Pentas ini meneritakan tentang bagaimana perasaan para pejuang dalam menempuh jauhnya jarak hanya demi ingin memberikan kontribusi lebih akan keadaan umat pada saat ini di 2 desember 2016 atau biasa di kenal dengan peristiwa 212.

Mulai dari keadaan bagaimana peristiwa itu di mulai sampai pengalaman seorang non-muslim yang kagum akan rasa toleransi beragama pada saat ia menghadiri ibadah agamanya dan para aktivis 212 sama sekali tidak mengintervensi malah memberikan kemudahan dalam pelaksanaan agana mereka. (asg/pers)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *